
Keberadaan tempat hiburan malam di kawasan Jakarta Selatan ditengarai menjadi faktor penyebab tingginya penderita human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) di wilayah tersebut. Sejak dua tahun terakhir, penderita HIV/AIDS di Jakarta Selatan tercatat 88 orang, yaitu 46 orang positif mengidap HIV dan 42 orang terjangkit AIDS.
Kasudin Kesehatan Jakarta Selatan, Togi Asman Sinaga, mengatakan, penderita HIV/AIDS terbanyak berasal dari wilayah Kecamatan Tebet dan Kebayoranbaru. Sebab, di kawasan tersebut banyak dijumpai tempat hiburan malam, sehingga dimungkinkan sering terjadi pergaulan seks bebas dan narkoba.
"Mayoritas berasal dari daerah Tebet dan Kebayoranbaru. Hal ini, karena banyaknya penikmat hiburan malam yang tidak melengkapi dirinya dengan pengaman (kondom-red), sehingga memicu penyebaran virus HIV/AIDS. Selain itu dimungkinkan juga akibat penggunaan jarum suntik narkoba," katanya, Sabtu (20/12).
Tingginya angka penderita HIV/AIDS di wilayah Tebet yang mencapai 8 orang tidak bisa dijadikan sebagai acuan untuk menilai wilayah Kecamatan Tebet sebagai daerah endemi HIV/AIDS. Pasalnya, untuk kawasan Tebet telah ada klinik metadon yang memang selalu melayani pengobatan bagi penderita HIV/AIDS dari berbagai wilayah kecamatan lain.
"Jadi kalau dikatakan di Tebet jumlahnya tinggi, belum tentu semuanya adalah warga Tebet. Bisa jadi itu adalah warga dari kecamatan lain, karena di Tebet ada klinik metadon yang merupakan klinik pengobatan HIV/AIDS satu-satunya di Jakarta Selatan. Di sana setiap yang berobat pasti didata, sehingga jumlah itu bercampur dengan penderita dari wilayah lain," tandasnya.
Untuk menekan jumlah itu, Sudin Kesehatan Jakarta Selatan akan terus menyosialisasikan kepada masyarakat tentang perlunya setia dengan pasangan dan tidak menggunakan narkoba. Sebab, kunci paling penting untuk menghindari HIV/AIDS adalah dengan setia kepada pasangan hidup masing-masing dan tidak menggunakan narkoba. Namun begitu, dirinya berharap kepada masyarakat juga tidak mengucilkan penderita HIV/AIDS karena hal itu bisa memengaruhi kondisi psikologis si penderita.
"Penularan yang paling cepat, jika seseorang melakukan seks bebas dan menggunakan jaruk suntik. Dan sosialisasi tentang ini akan kita kampanyekan kepada masyarakat mulai dari pertemuan di tingkat kelurahan hingga ke kawasam hiburan malam," jelasnya. [] beritajakarta.com — 20-12-2008 17:08

Tidak ada komentar:
Posting Komentar